1. KAKEK GURU LU CONG I
PROFIL PENDAHULU


金公祖師 Cin Kong Cu Se | Kakek Guru-Lu Cong I
Guru Suci pertama pada zaman pancaran putih, marganya adalah Lu, nama beliau adalah Cung I lahir di Ci Ning, propinsi San Tung, China, pada tahun masehi 1849 bulan 4 tanggal 24 imlek, adalah titisan Buddha Maitreya, merupakan Guru generasi ke 17 pada zaman timur periode ke dua. Sewaktu masih kecil beliau sudah kehilangan kedua orang tua, bersama adik perempuan tinggal di luar kota yang berjarak 5 mil dari batalyon tentara. Tempat tinggalnya terbuat dari rumput kering dan tanah (gubuk) dan hidup dalam keprihatinan, setiap hari bekerja, dengan pakaian yang sangat sederhana (kasar dan robek), kehidupannya sangat susah.
Di saat berumur 22 tahun, pemerintah membuka lowongan bagi rakyat untuk masuk tentara dan membagikan uang santunan bagi keluarganya, sehingga beliau langsung pergi mendaftarkan diri untuk masuk tentara dibatalyon kecil. Pada awal tahun 1896, tiba-tiba “Tuhan memberikan petunjuk”, selama tiga malam berturut-turut BUNDA SUCI memberikan pesan kepada beliau melalui mimpi sebagai berikut: “Cepatlah pergi ke San Tung, tempat Kakek Ching Si (yang dimaksud adalah Guru Suci generasi ke 16 Liu Ching Si, beliau adalah orang Ching Chou, I Tu, menerima Firman pada tahun 1887) untuk memohon Tao, jangan terpikat pada hal-hal duniawi”. Keesokan hari, Kakek Guru melepaskan pekerjaannya, lalu berkemas dan membawa uang 100 tail yang ditabung selama bertahun-tahun, berangkat kearah selatan. Di sepanjang jalan, di malam hari pada saat beliau bermalam di tempat penginapan selalu ada dewa yang memberi petunjuk melalui mimpi. Pada satu malam beliau dapat petunjuk lagi didalam mimpi. “Esok hari, pergilah anda ke suatu gunung, temui Guru Penerang untuk memohon TAO”. Kakek Guru Liu juga bermimpi pada malam yang sama, didalam mimpi itu dewa memberi petunjuk “Esok pagi ada seorang yang sangat bijak datang, pergilah ke muka gunung menyambut dia”.
Esok hari pagi-pagi Kakek Guru Liu pergi ke muka gunung, saat memandang ke jalan, dilihatnya ada seorang yang tubuhnya pendek dan gemuk, mengenakan topi bludru besar yang bundar, badan memakai jaket pendek yang sudah rombeng, memikul barang bawaan di bahu datang menghampiri. Begitu sampai di hadapan Kakek Liu, Kakek Guru Lu langsung bertanya: “Apakah disini ada guru penerang menyebarkan TAO?” Kakek Guru Liu dalam hatinya masih ragu apakah orang ini yang dimaksud dalam mimpi, lalu membuka mulut berusaha bertanya menyelidiki: “Anda juga ingin memohon TAO?” Tetapi memohon TAO memerlukan 100 tail uang perak”. Kakek Guru Lu tanpa ragu menyetujui. Kakek Guru Liu berkata di dalam hatinya: “Aku kata 100 tail baru dapat TAO, sebetulnya adalah kata-kata tidak serius yang kuucapkan. Tapi tak sangka orang ini punya 100 tail ”. Hatinya merasa tidak enak. Lalu mereka pergi ke atas gunung bersiap mengadakan persembahan, akhirnya di bawah sinar pelita suci, Kakek Guru Lu menerima satu petunjuk suci, membukakan kesejatian Tao yang agung. Kakek Guru Lu langsung sadar, mendapatkan sepertinya tidak mendapatkan apa-apa, sebab segalanya di saat itu tersedia semuanya, tak perlu meminjam yang berwujud untuk mengetahui keberadaannya”.
Setelah selesai menurunkan Tao pada Kakek Guru Lu, Kakek Guru Liu berkata: “Tao sudah diturunkan kepadamu! Anda sudah boleh pulang”. Kakek Guru Lu menjawab: “Uang 100 tail itu adalah hasil tabunganku sebagai tentara selama bertahun-tahun semua sudah kuberikan kepada Guru, saya tidak punya rumah untuk pulang, saya ikut Guru membina Tao saja”. Kakek Guru Liu bertanya lagi: “Apa yang bisa anda kerjakan?” Kakek Guru Lu menjawab: “Saya buta huruf, hanya mampu mengerjakan pekerjaan kasar”. “Kalau begitu pekerjaanmu memotong kayu bakar dan memikul air saja”. Kata Kakek Guru Liu. Sejak saat itu tugasnya adalah menanam sayur, memikul air, memotong kayu bakar dan memasak nasi. Kakek Guru Lu menerima semua itu lalu tinggal di tempat kediaman Kakek Liu membina Tao sambil bekerja keras. Kakak-kakak seperguruan yang berpendidikan semua masuk kelas mempelajari Dharma rohani atau melakukan meditasi. Hanya Kakek Guru Lu secara diam-diam menghayati dalam lubuk hati, setiap hari memikul air dan memasak nasi, tanpa ada keluhan dan rasa benci.
Saat Kakek Guru Liu berusia 50 tahun, dalam hatinya berpikir dirinya sudah tua, perjalanan Tao akan berubah. Pada suatu hari, Kakek Guru Liu mohon petunjuk pada BUNDA SUCI, kelak tugas-tugas TAO ini akan diteruskan oleh siapa? Petunjuk BUNDA SUCI berkata: “Orang yang bijak ada dihadapan mata.” Kakek Guru Liu bertanya lagi: “Siapakah orang itu?” “Bila engkau bertanya Buddha Maitreya berada dimana? Dalam kolam sungai Chi telitilah dengan seksama, kepalanya mengenakan topi bludru kulit kambing, memakai pakaian orang biasa, mulutnya mengucapkan kata-kata sejati, selalu mengutamakan kasih dan keadilan, mata membelalak jalan (Lu) terbagi dua, di tengah (Cung) terdapat satu (I) rahasia, matahari dan bulan bersatu (合/He) jagat jadi terang, pekerjaannya (仝/Thung) selalu dijinjing di tangan.” Kakek Guru Liu pada waktu itu masih belum mengerti, maka beliau bertanya lagi: “Siapakah orang itu?” Petunjuk BUNDA SUCI berucap lagi: “Saatnya belum sampai, sulit untuk kau ketahui.”
Kakek Guru Liu tiba-tiba menghayati maknanya, lalu menyuruh semua muridnya mencuci tangan untuk sembahyang, dihadapan altar menyuruh semua muridnya membuka dan mengulurkan tangan untuk diperiksa satu persatu, melihat apakah dalam telapak tangan ada sesuatu yang ganjil. Namun Kakek Guru Liu tidak menemukan 2 huruf ”He Thung “ diatas telapak tangan mereka. Pada saat beliau terdiam bingung, Kakek Guru Lu sesudah mencuci tangannya di dapur lari ke cetya menjulurkan tangannya supaya Kakek Guru Liu memeriksanya sambil berkata: “Telapak tangan murid apakah sudah bersih?” Kakek Guru Liu tidak melihat dengan teliti lagi segera berkata: “Benarkah kau ada itu?” Selang satu masa, Kakek Guru Liu mengumpulkan muridnya dan berkata: “Tao yang agung harus di teruskan, jiwa sejati harus dihayati, kalian semua menerima Firman Tuhan (Thien Ming), Turunlah dari gunung dan tempuhlah hari depan kalian masing-masing!” Semua orang menerima tugas, lalu masing-masing berkemas, ada yang pulang ke rumah, ada yang pergi mengembangkan Tao, hanya Kakek Guru Lu yang hatinya sedih, karena yang lain punya keluarga, namun dirinya sudah bertahun-tahun meninggalkan kampung halaman, kedua orang tuanya juga sudah lama meninggal dunia, hari depan tiada menentu, mau pergi kemana? Lalu beliau meminta petunjuk kepada Kakek Guru Liu: “Murid tidak punya rumah untuk pulang , bolehkah mohon petunjuk kepada BUNDA SUCI?” Kakek Guru Liu memohon BUNDA SUCI hadir di altar. BUNDA SUCI memberi petunjuk: “Kini sudah sampai di akhir jaman stadium ke tiga, dan penyelamatan global telah digelar, sebuah jalan mengaitkan semua gunung-gunung, sungai-sungai diatas bumi. Dengan bahtera suci mengarungi air yang jernih menuju Tung Lu mendirikan basis…” Kakek Guru Lu bertanya lagi: “Ananda harus pergi kemana?” BUNDA SUCI memberi petunjuk lagi: “Berdiam dirilah didalam biara Kwan Im.”
Lalu beliau berangkat menuruni gunung, namun tak tahu harus pergi kemana. Beliau berpikir, biara Kwan Im adalah rumah ibadah kaum padri wanita, aku sebagai kaum pria mana boleh tinggal disana? Lalu beliau pun teringat kampung halamannya masih ada seorang adik perempuannya. Lebih baik ke sana dulu mencari tempat tinggal dahulu. Sampai di daerah Ci Ning, kampung halamannya, lalu mencari alamat adiknya. Tapi begitu ketemu, ternyata sang adik tidak mengenal kakaknya lagi. Karena kakak menjadi tentara dan sudah begitu lama tidak bertemu dan tidak ada kabar berita mungkin sudah lama gugur. Sekarang ini tiba-tiba bertemu, tidak berani saling mengenal. Lalu Kakek Guru Lu bercerita untuk membuktikan jati dirinya, bagaimana sengsaranya kehidupan keluarga sejak kecil, kakak beradik bagaimana mencari sayur di hutan dan banyak hal-hal lain, sang adik baru mengenali kakaknya dan menampungnya untuk tinggal bersama. Adiknya yang telah tua memiliki dua orang anak, adik iparnya bermarga Chen berperangai bodoh dan keras, keadaan rumah tangga juga susah. Saat itu kakak beradik dengan leluasa membicarakan masalah membina dan mengembangkan Tao, masalah penyelamatan umat, bagaikan kembali ke masa lalu, rasanya tidak ingin berhenti. Lalu membuka cetya di rumah, menyelamatkan umat ke mana-mana, demikianlah Tao yang agung secara perlahan-lahan terus berkembang luas. Kemudian kedua anak adik beliau pun menerima Firman mengembangkan Tao, orang menyebut mereka Guru Chen yang besar dan Guru Chen yang kedua.
Pada tahun 1925 masehi, sebelum Kakek Guru Lu meninggal. Karena terserang radang tenggorokan, sehingga tak bisa menelan makanan, beliau sadar bahwa umurnya tidak panjang lagi, sedangkan tugas banyak belum selesai, murid-muridnya juga kualitasnya tidak sama, tidak semua baik, yang sejati dan yang pura-pura sulit dibedakan, kenapa tidak mengambil kesempatan itu untuk menguji mereka? Maka beliau mengumpulkan muridnya dan berkata: “Aku mematuhi semua pantangan-pantangan dan membina diri puluhan tahun, menjalankan tugas sesuai dengan kehendak Tuhan, tapi sekarang ini aku terserang penyakit yang tidak ada obatnya, ini terbukti Tao ini bukan yang sejati. Maka mulai sekarang kalian menempuh jalannya masing-masing, tidak usah bertahan membina Tao”. Lalu beliau memerintahkan koki beli daging sepuluh kati, dimasak dan dibagikan kepada murid-muridnya untuk dimakan bersama. Karena Kakek Guru Lu terserang penyakit radang tenggorokan, tidak dapat menelan makanan. Mereka yang pengertiannya kurang jelas, sebagai tanda taat pada perintah Guru, lalu banyak yang batal sebagai vegetarian, memakan daging, ataupun mundur tak melakukan pembinaan lagi. Hanya Guru kita yang usianya paling muda diantara mereka, mengerti semua ini adalah ujian yang dilakukan Kakek Guru, beliau tidak banyak ribut, mempertahankan kesucian dirinya.
Pada tahun yang sama, bulan 2 tanggal 2 imlek, Kakek Guru Lu mencapai kesempurnaan, dalam usia 76 tahun. Kakek Guru tidak beristri sepanjang hidupnya, berambut putih tapi wajah merah seperti wajah anak-anak. Murid-murid beliau sudah berjumlah ribuan orang, yang merupakan tokoh besar ada 8 orang. Setelah Kakek Guru Lu meninggal dunia, pimpinan Tao jadi kosong, lalu para tokoh memohon kepada roh Kakek Guru Lu untuk hadir di altar memberi petunjuk, Kakek Guru Lu memberikan petunjuk: “Tunggulah 3 bulan, setelah 100 hari, dengan sendirinya akan ada kabarnya.”Belum sampai 3 bulan para tokoh merasa diri masing-masing jasa pahalanya banyak dan kebajikannya tinggi, lalu mereka memohon petunjuk kepada BUNDA SUCI siapakah yang menggantikan kedudukan Kakek Guru Lu. BUNDA SUCI berkata: ”Kalian semua masing-masing memiliki Firman.” Mereka tidak sadar bahwa sejak dahulu kala Firman hanya diemban oleh satu atau dua orang, mana bisa diemban oleh banyak orang, Mereka tidak menghayati kehendak Tuhan, dengan paksa memohon Firman Tuhan, sehingga masing-masing tokoh berdiri sendiri-sendiri, melaksanakan pekerjaannya masing-masing. Setelah itu akhirnya ada yang meninggal, ada juga yang tidak mempunyai tugas yang bisa dilaksanakan.
Hanya Guru kita yang patuh kepada pesan Kakek Guru Lu, tidak berani banyak masalah. Menunggu sampai 100 hari, lalu BUNDA SUCI berkata: “Firman (Thien Ming) dipegang oleh adik Kakek Guru Lu selama 12 tahun.” Kemudian karena situasi mendesak, dengan perhitungan penanggalan masehi dan imlek secara kombinasi, diubah menjadi 6 tahun. Bapak Guru merupakan tokoh yang umurnya paling muda diantara 8 tokoh besar, pengikutnya paling sedikit. Namun selama 6 tahun, tugas yang diselesaikan oleh Guru paling banyak, dan semua dilaporkan kepada adik Kakek Guru (Lau Ku Nai Nai)
Pada tahun 1930 masehi di depan pembakaran dupa “Pa Kua” BUNDA SUCI berfirman, memerintahkan Bapak dan Ibu Guru bersama menerima Firman dan secara formalitas mengikat hubungan suami istri, beliau berdua menerima Firman sebagai Guru Suci generasi ke 18, juga disebut Guru ke 2 di jaman pancaran putih, memimpin kalangan Tao, mengadakan penyelamatan global 3 alam (alam dewa, alam manusia dan alam arwah), melanjutkan tugas-tugas penyelamatan akhir di ujung jaman dan penyelamatan secara global.
Setahun setelah Kakek Guru Lu meninggal, yaitu pada tahun 1926 masehi, bulan 3 tanggal 3 imlek, roh beliau dengan meminjam raga Yang Chuen Ling yang berasal dari propinsi San Si datang ke sebuah cetya di propinsi San Tung di daerah Ci Ning, memberikan penampakan selama 100 hari. Dari mulutnya menurunkan kitab “Cin Kung Miao Tien (Kitab Suci dari Kakek Mas)” dan kitab suci “Mi Lek Cen Cing (Kitab Suci Buddha Maitreya Sejati) untuk umat dunia, dalam waktu yang bersamaan dengan dua tangan sekaligus, memakai tulisan kuno Mei Hoa menulis dua bait syair sebagai berikut: “Angin meniup daun bambu bagaikan naga menarikan cakarnya, hujan menerpa bunga teratai bagaikan burung Hong menganggukan kepala.” Selama 100 hari banyak sekali penampakan yang diperlihatkan, sesuatu yang sangat luar biasa yang tak terpikirkan oleh akal sehat manusia. Sejak dahulu kala ada kata-kata kuno yang mengatakan ayam jago mas berkokok tiga kali, itu maksudnya Kakek Guru akan datang berkunjung sebanyak tiga kali, sekali melalui diri Yang Chuen Ling, kedua kali melalui Thu I Khun bila Ayam Mas berkokok yang ketiga kalinya Kakek Guru akan datang sendiri untuk mempersatukan semua ajaran dan agama, TAO akan tersebar merata, dunia aman sentosa. Setelah kakek guru mencapai kesempurnaan, Lao Mu menganugerahkan gelar : Cin Kong Cu Se.
