2. BAPAK GURU SE CUN

PROFIL PENDAHULU

天然古佛 Thien Ran Ku Fo | Bapak Guru-Se Cun

Bapak Guru bermarga Zhang nama Kuei Seng alias (atas) Kuang (bawah) Pi adalah titisan pecahan roh Buddha Hidup Ci Kung, sebagai Guru Suci generasi ke 2 masa pancaran putih, Guru Generasi ke 18 pada zaman timur periode akhir. Beliau lahir pada tahun 1889 bulan 7 tanggal 19 imlek. Pada saat Guru Suci lahir, pagoda suci “Thien Than” tempat raja-raja bersembahyang kepada TUHAN (Thien) di Beijing terbakar, di langit terlihat hamparan sinar merah, dan Sungai Kuning (Huang He) yang selalu keruh airnya, pada hari itu mendadak jernih sampai terlihat dasarnya, Ini karena cahaya bola api menerangi umat manusia, dan juga pertanda merubah yang keruh (kacau) menjadi jernih (damai sentosa)

Bapak Guru secara lahiriah nampak aneh dibandingkan dengan orang biasa, kepala beliau berbentuk persegi dan rata atasnya, bayangan pada biji mata ada dua, sangat cerdas, bersifat jujur, dilahirkan di keluarga terpelajar turun temurun. Pedoman keluarga sangat baik. Sang ayah yang berwelas asih mendidik Guru Suci kita sejak beliau masih kecil, secara langsung memberikan pendidikan sastra padanya, secara garis besar beliau sudah mengerti akan kitab dan syair, setelah dewasa mencapai keberhasilan, sehingga beliau mempunyai cita-cita besar. Saat berumur 22 tahun, beliau merantau ke Nan Jing, Shanghai, mengikuti paman (suami bibi). Profesi beliau pada waktu itu adalah sebagai perwira. Pada suatu hari, tiba-tiba mendapat kabar ayahnya jatuh sakit berat, beliau meninggalkan jabatan pulang ke tempat kelahirannya. Tidak berapa lama ayahnya meninggal dunia. Setelah melewati hari berkabung, beliau menetap ditempat kelahiran menemani ibunya mengurus karya peninggalan, mempertahankan sifat setia dan bisa dipercaya, sehingga terkenal dan dipuji tetangga di daerah sekitarnya.

Pada tahun 1915, Bapak Guru berusia 27 tahun, bertemu dengan Guru Chu yang sedang mengajarkan ajaran I Kuan Tao dari ajaran Khung-tze, Meng-tze, semula beliau tidak berani begitu saja percaya. Sehingga beliau mempersilahkan ibunya dulu untuk mendapatkan TAO (Inisiasi), untuk menyelidiki dengan jelas dahulu apakah ajaran ini sejati atau sesat baru memastikan keputusannya. Setelah sang ibu mendapatkan TAO dan mempelajarinya, ternyata ajaran itu sesuai dengan kebenaran dan sangat bagus, memiliki manfaat yang besar dalam membantu penegakkan moral dan hati manusia, Guru Suci juga mendengar bahwa ajaran itu dapat menolong arwah orang tua supaya terlepas dari siksaan neraka dan naik ke surga. Karena ayah beliau sudah keburu meninggal, beliau merasa belum dapat berbakti kepadanya, tak dapat dihindari ada penyesalan dalam hati, maka beliau mengambil keputusan untuk mendapatkan TAO supaya kelak dapat membalas budi orang tua. Setelah Bapak Guru mendapatkan Tao, jodoh kelahiran lalu tertampilkan, ketulusan hatinya terus berkembang tanpa ada yang dapat menghalanginya, sejak itu bersama segenap anggota keluarga membina TAO, mendirikan cetya dirumah, mengikuti Guru Chu menjalankan dan membuka ladang Tao baru, mengikat jodoh dengan luas. Dalam beberapa tahun, beliau melintaskan umat sebanyak 64 orang. Karena masa Kakek Guru sudah ditentukan peraturan suci yang menetapkan melintaskan umat sebanyak 100 orang baru dapat mengangkat arwah leluhur satu tingkat di atas, Bapak Guru karena merasa tak mampu melintaskan umat lebih banyak lagi, sehingga merasa sangat risau.

Guru Chu melihat Guru Suci begitu tulus hatinya dan sangat berbakti kepada orang tua, lalu meminta petunjuk Kakek Guru. Kemudian Kakek Guru mohon petunjuk kepada BUNDA SUCI mengatakan: “Dimulai dari orang ini, melintaskan 64 orang di tambah dengan satu jasa, maka siapa yang membina Tao dengan tulus hati, bisa mengangkat arwah leluhur satu tingkat diatas, yaitu arwah ayah dan ibu.” Setelah mencapai kesempurnaan, Ibunda Suci menganugerahkan gelar: Thien Ran Ku Fo