3. IBU GURU SE MU
PROFIL PENDAHULU


中華聖母 Cong Hua Sheng Mu | Ibu Guru-Se Mu
Cong Hua Sheng Mu adalah Patriat ke-18 dari Ufuk Timur. Salah satu Patriat kedua di pancaran putih, bermarga Sun bernama (atas) Su (bawah) Cen, alias Ming Shan (gelar dalam wadah Ketuhanan adalah Hui Ming). Se Mu (Ibu Guru Suci) dilahirkan di propinsi San Tung, kabupaten Tan, pada Dinasti Ching, tahun 1895 (tahun Kuang Si ke-21) bulan 8 tanggal 28, merupakan titisan dari Yue Hui Phu Sa. Sejak kecil, Se Mu mempunyai kesadaran yang tinggi, mempunyai hati welas asih dan suka berpuja bakti Buddha. Selain itu, Beliau mendapat didikan ketat dari keluarga dan mempunyai penampilan sebagai wanita yang anggun.
Pada tahun 1918 (tahun Ming Kuo ke-7), Beliau bertemu dengan Kakek Guru Lu dan mendapatkan Tao. Karena ikrarnya yang begitu besar dan mendalam, beliau giat ingin maju, tidak mau bermalas - malasan sehingga pada tahun 1930 (tahun Ming Kuo ke-19), Se Mu bersama- sama dengan Se Cun menerima Firman Tuhan. Meskipun Beliau berdua disebut suami istri, tetapi tidak melakukan kewajiban sebagai suami istri. Yang Maha Kuasa menurunkan titah bahwa dalam melaksanakan tugas Ketuhanan ini, berdasarkan keadilan antara laki-laki dan perempuan sehingga laki-laki dan perempuan bisa bersama-sama membina dan melaksanakan Tao. Inilah yang disebut dengan Tao diturunkan kepada rakyat biasa. Keluarga rakyat jelata pun bisa sesuai dengan situasi membina diri.
Kehendak Tuhan Yang Maha Esa sukar untuk dilanggar. Kesaksian Para Suci di setiap kelas Sidang Dharma pun menunjukkan bahwa Se Mu mengemban tugas berat. Dengan kesucian hati lebih mementingkan Tao, Beliau mendam-pingi Se Cun melaksanakan tugas pelintasan tiga alam. Selama ribuan tahun, wanita tidak mendapatkan kesem-patan ikut membina diri. Tetapi berkat budi Se Mu, maka kaum wanita juga mempu-nyai kesempatan untuk menda-patkan Tao dan membina diri sehingga budi besar Se Mu ini tidak boleh kita lupakan. Tahun Ming Kuo ke-36 (tahun 1947), tepat di hari perayaan Cong Chiu, Se Cun mencapai kesempurnaan dan Se Mu yang melanjutkan silsilah dari Tao ini, meneruskan tugas sebagai penguasa Tao.
Saat itu, situasi politik sangat kacau dan ujian dari pemerintah datang bertubi-tubi. Wadah Ketuhanan pun mulai goyah. Se Mu demi menolong umat mengurangi bencana, mulai menata kembali wadah Ketuhanan. Maka pada Tahun Ming Kuo ke-37 (tahun 1948), diawali dari kota Cheng Tu, Cong Ching, Se Mu membuka kelas pertobatan (Chan Hui Pan ) di seluruh kota besar di Tiongkok, meneruskan estafet benang emas ini. Tahun Ming Kuo ke-38 (tahun 1949), setelah suhu politik di daratan Tiongkok berubah, Se Mu masih tetap tidak menghindar dari bahaya dan bencana. Beliau diam-diam pergi ke berbagai tempat untuk menenangkan hati umat manusia. Sampai tahun Ming Kuo Ke-39 (tahun 1950), demi meneruskan Firman Tuhan, berangkat dari Kota Shanghai (melewati Kuang Cou dan Macao), Se Mu tiba di Hongkong. Tahun berikutnya, Beliau juga ke Malaysia menyebarkan Tao, melintaskan umat di Asia Tenggara. Tetapi karena kondisi dan lingkungan yang tidak cocok, maka pada tahun Ming Kuo ke-42 (tahun 1953), Beliau kembali ke Hongkong.
Pada tahun Ming Kuo ke-43 (tahun 1954), di bawah pengaturan Maha Sesepuh Han ( Bai Shui Shen Di ), akhirnya Se Mu dipindahkan ke Taiwan, menetap di Kota Thai Cong. Selama di Taiwan, ujian pemerintah masih tidak henti-hentinya berdatangan. Se Mu tidak tega melihat umat manusia dan murid-murid-Nya menerima penderitaan, hinaan dan siksaan. Maka Beliau berikrar untuk menanggung bencana dan penderitaan umat manusia. Sepanjang tahun tidak ke luar rumah, mengurung diri dari duniawi, memikul dosa umat manusia sehingga ujian dari pemerintah pelan-pelan mereda. Sampai dengan tahun Ming Kuo ke-52 (tahun 1963), ujian datang lagi. Maka Se Mu memohon welas asih Lao Mu (Ibunda Suci) dengan puluhan ribu sujudan untuk meniadakan ujian iblis, beliau rela seorang diri menanggung dan memikul segala bencana. Karena menanggung begitu banyak ujian iblis, kesehatan Se Mu semakin hari semakin menurun. Akhirnya, pada tahun Ming Kuo ke-64 (tahun 1975), bulan 2 tanggal 23, di tengah-tengah hujan petir yang dahsyat bersahutan, semua makhluk di antara langit dan bumi berduka karena seorang nabi pada jaman itu telah mencapai kesempurnaan, tutup usia pada usia 81 tahun.
Se Mu menetap di Taiwan selama 21 tahun dan memberikan segenap jiwa raganya demi kelancaran pelaksanaan Tao. Karena budi besar Beliau melindungi umat manusia, maka Lao Mu memberi gelar kepada Beliau Cong Hua Sheng Mu
